Kamis, 08 Mei 2008

Attitude Murid Kritus

Attitude Murid Kritus ( Bagian Pertama )

Bacaan : Yohanes 6:1-15

Perikop yang baru saja kita baca menceritakan suatu kisah yang sangat popular dari kisah mujizat Yesus, kisah ini sering diceritakan kepada anak sekolah minggu. Popularitas itu nyata bahwa keempat injil Matius,Markus,Lukas,Yohanes, semua mencatat kisah itu bahkan menurut salah satu teolog Kisah yang terdapat dalam Alquran yang ditulis dalah surat Surah 5:112-115 yang mengisahkan nabi Isa dan murid-muridnya diberi makan oleh Allah SAW dengan cara meja yang berisi makanan turun dari langit itu adalah menunjuk kepada peristiwa Yesus memberi makan kepada lima ribu orang. Memang kisah mujizat lima roti dan dua ikan sulit kita terima dengan logika.

Bagaimana mungkin roti yang Cuma lima potong dan dua ekor ikan dapat mengenyangkan lima ribu orang. Sungguh tidak dapat masuk akal manusia, tapi itulah yang membuktikan bahwa Yesus sungguh Allah, sungguh tidak terjangkau dengan logika manusia, kalau terjangkau dengan logika, maka itu dapat dilakukan oleh manusia, kalau dapat dilakukan oleh manusia, maka tidak menujukan keMahaKuasaan Sang Pencipta. Justru karena tak terjangkau logika manusia ,kita menyadari adanya Kuasa Adikodrati dan KeMaha Kuasaan Sang pencipta.

Dari peristiwa ini kita juga mendapat pelajaran yang indah, bukan dari sisi mujizat Ilahi, kita meyakini Allah mampu melakukan segala perkara. Amin! Saya yakin Yesus Kristus itu Allah, hal itu nyata dalam segala perbuatan-perbuatanNya, yang kita pelajari, Bagaimana Yesus mengajar murid harus bersikap? Oleh karena itu renungan siang ini saya beri thema “Attitude Murid Kristus”

Dalam kisah itu ketika Yesus melihat orang banyak datang kepadanya, Ia berkata kepada muridNya yang bernama Filipus, “Dimanakah kita akan membeli roti,supaya mereka ini dapat makan?”(ayat 5). Tanya Yesus pada Filipus. Pertanyaan Yesus dijelaskan oleh Yohanes sebagai pertanyaan “Pencobaan bagi muridNya yang bernama Filipus. Pencobaan dalam hal apakah? Dalam hal sikap/karacter dari Filipus. Yesus ingin menguji sikap murid-Nya. Apa yang harus dilakukan ketika melihat orang yang membutuhkan sesuatu? Saat itu orang banyak membutuhkan makan. Apa yang dilakukan Filipus? Filipus berkata: “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja”(ayat 7). Dengan kata lain berat Tuhan! Tidak mungkin kita dapat memberi untuk mereka. Sikap murid yang tidak mau direpotkan/yang tidak mau memberi diperlihakan dengan jelas dalam tulisan injil lainnya. Dalam Matius,Markus, dan Lukas, dikisahkan sikap murid itu: “Suruhlah mereka itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa”(Mat. 14:15, Mark.6:36, Luk. 9:12). Tapi apa kata Yesus: “Kamu harus memberi mereka makan!”(Mat.14:16; Mark.6:37; Luk. 9:13). (sikap pertama)Jelas Yesus mengajarkan murid-murid untuk memberi. Bukankah Firman berkata: “Lebih berbahagia memberi daripada menerima”(Kis. 20:35)
Ketika Yesus memerintahkan untuk Memberi, murid-murid berkata: “Yang ada pada kami tidak lebih dari pada lima roti dan dua ikan, kecuali kalau kami pergi membeli makanan untuk semua orang banyak ini”.(Mat.14:17;Mark. 6:38;Luk.9:13;Yoh.6:9). Dalam hal memberi seringkali kita juga berpikir:”aku tidak punya apa-apa!”. Tapi Yesus memperlihatkan jika apa yang ada pada kita serahkan pada Dia, maka akan berarti dan berfaedah. Dari lima roti dan dua ikan dapat memberi makan lima ribu orang dan sisa dua belas bakul. Apa yang ada pada kita jika kita lakukan kepada sesama untuk kemuliaan Tuhan akan berarti/berfaedah sangat besar.

Saya berkata memberi tidak perlu menunggu kita menjadi orang kaya(punya banyak sesuatu). Memberi dapat kita lakukan dengan apa yang ada pada kita. Memberi tidak harus selalu dengan uang, memberi dapat berupa apa saja, mungkin dengan tenaga, dengan pikiran/ide,dengan kata-kata motivasi dan sebagainya. Yang pasti kita memberi, memberi untuk kemuliaan Tuhan. Apa yang ada pada kita, jika kita letakan kedalam tangan Tuhan mempunyai makna yang sangat besar. Memberi berarti kita melayani, seperti kata Yesus: Aku dating bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani”(Mark10:45). Memang memberi atau melayani bukan suatu hal yang menyenangkan, dibutuhkan suatu pengorbanan.

Untuk dapat kita mempunyai sikap yang Yesus inginkan, yakni: Memberi/Melayani. Kita harus ingat.

Memberi/melayani adalah perintah Kristus (Mat.14:16; Mark.6:37; Luk. 9:13;band. Mark10:45)

Lebih berbahagia memberi daripada menerima” (Kis.20:35). Ada suatu sukacita yang tak terhingga,yang tak dapat kita beli dimana-mana.

Apa yang kita lakukan akan kita tuai. Sesuai kata Firman:”berilah kamu akan diberi…” (Luk. 6:38). Tuaian itu datang dari Tuhan.


Oleh Pdm. Ridwan Kurniawan







Attitude Murid Kristus ( Bagian Kedua )


Dari kisah Yesus memberi makan lima ribu orang dengan lima ketul roti dan dua ekor ikan, kita mendapat pelajaran untuk mempunyai sikap yang Melayani/Memberi. Yang Yesus inginkan dari murid-muridnya adalah memiliki sikap yang memberi.

Saat ini kita akan melihat sikap apa lagi yang Yesus inginkan dari murid-muridNya. Melalui pembacaan kita hari ini yang kita ambil dari Yohanes 6:19-24 (baca).
Perikop ini mengisahkan tentang Yesus berjalan di atas air, satu lagi kisah yang cukup popular dari tindakan Yesus. Hal itu juga menunjukan Ke-Allah-an Yesus Kristus.

Dari pembacaan kita tadi, ada sesuatu yang menarik yakni, perkataan Yesus “Aku ini, jangan takut!”(ayat 20). Yesus memerintahkan kepada murid-murid-Nya agar jangan takut. Yang menjadi pertanyaan kita saat ini apa yang murid Yesus takuti? Melalui kisah yang kita baca tadi kita melihat murid Yesus pergi naik perahu, dan saat itu terjadi angin kencang(Dalam Injil Matius dikatakan Badai/angin sakal, Matius 14:24)saat itu pula mereka melihat ada orang berjalan diatas air, yang mereka duga itu hantu(Baca Mat.14:26). Yang membuat mereka takut adalah adanya hantu, yang mereka pikir itulah yang menyebabkan terjadinya angin besar yang mengganggu perjalanan mereka/menghambat perjalanan mereka. Apa relevansinya untuk kita saat ini? Saya interpretasikan kisah perjalanan murid Kristus yang naik perahu adalah gambaran bahtera hidup kita saat ini/perjalanan hidup kita, gelombang atau angin besar merupakan gambaran masalah kehidupan yang kita hadapi. Seringkali kita menjadi takut menghadapi masalah hidup. Mungkin masalah ekonomi, masalah jodoh, masalah study dan lainnya. Mengapa seringkali kita menjadi takut akan permasalahan hidup? Karena kita sering kali melihat masalah itu sebagai sesuatu yang menakutkan, sesuatu yang mengerikan(baca :hantu kehidupan).

Seperti halnya murid Yesus saat itu, mereka melihat sesuatu yang dianggap hantu, yang menakutkan bagi mereka. Seharusnya kita melihat masalah itu sebagai bagian hidup yang harus kita jalani. Masalah adalah bagian kehidupan dan adanya masalah dalam diri kita adalah pembuktian kita hidup. Tidak ada orang yang hidup tanpa masalah.


Bagaimana supaya kita tidak takut terhadap permasalahan hidup?
Jangan berfokus terhadap masalah itu.Berfokuslah kepada Yesus.(Baca: Ibrani 12:2).(sikap kedua)

Apa yang dimaksud tidak berfokus pada masalah?

Masalah itu tidak menjadi pusat perhatian. Yang saya maksud bukan tidak boleh kita pikirkan jalan keluarnya masalah yang kita hadapi, tapi jangan pikiran kita terpusat kepada masalah itu saja, karena setiap kali kita mencoba melawan suatu pikiran dari benak kita, kita semakin terdorong lebih dalam keingatan kita. Semakin banyak kita memikirkan sesuatu, semakin kuat hal tersebut menguasai kita. Semakin kita pikirkan masalah itu terasa semakin besar. akhirnya kita menganggap masalah itu terlalu besar. Ingat! 1Kor. 10:13”setiap pencobaan yang diberikan tidak melampau batas kemampuan kita”. Jadi tidak ada masalah yang tidak dapat kita atasi.




Apa yang di maksud berfokus kepada Kristus?

Menyadari. masalah merupakan kesempatan untuk membangun karakter kita. seperti kata Firman: “Karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan”(Baca: Rom 5:4).

Menyadari masalah Untuk membuktikan kemurnian iman kita. (Baca 1Petrus 1:6-7)
Menyadari masalah itu sebagai rencana Tuhan dalam hidup kita. (Baca:Yer.29:11).(Bukan masalah yang disengaja oleh diri kita).
Menyadari masalah Untuk jangka panjang bukan untuk jangka pendek. (Baca:Rom.8:17).
Mengucap syukur dalam segala hal (1Tes.5:18).

Dengan mengingat kelima hal di atas kita akan menjadi murid Kristus yang tidak takut terhadap masalah. Seperti perintah Yesus kepada murrd-Nya “Jangan takut”. Kita bersikap tidak takut dalam menjalankan hidup ini.



Oleh Pdm. Ridwan Kurniawan





Attitude Murid Kristus ( Bagian Ketiga )


Kita telah diajarkan untuk mempunyai sikap yang melayani/memberi dan sikap yang berani/tidak takut untuk menghadapi masalah-masalah kehidupan kita. kita melanjutkan pembacaan pada pasal 6 :22-72.

Pada ayat 22-24 di kisahkan orang banyak mencari Yesus, mereka itu adalah orang-orang yang mau mengikut Yesus dan mereka itupula yang telah menerima mujizat yakni, menerima makanan berupa roti dan ikan. Pada ayat 25 dijelaskan mereka menjumpai Yesus. Mereka bertanya: “Rabi,bilamana Engkau tiba di sini?”mereka heran Yesus sudah tiba di rumah ibadat di Kapernaum(ayat 59). Yesus tidak menjawab bagaimana cara Ia tiba di rumah ibadat itu, tapi Yesus memberi jawaban sebab mereka mencari Dia,”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.” (ayat 26-27).

Yesus menjabarkan sebab/alasan mereka mencari Dia, yakni mereka mencari Yesus karena: Makanan jasmani, mereka mencari Yesus karena urusan “kampung tengah” (urusana perut). Mereka tidak memperhatikan kemahakuasaan Yesus tapi mereka lebih berfokus pada rotinya/makanan. Hal itu tidak diinginkan Yesus. Yesus tidak ingin pengikut-pengikut-Nya mengiringi Dia atas dasar ingin kecukupan finansial. Karena Yesus tahu ada dua dasar dalam hati manusia meng-Allah-kan “Uang”(mammon) atau “diri-Nya”, seperti yang Ia ajarkan dalam khotbah di bukit: “Jangan kita berfokus pada uang, karena kita tak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada mamon”(Mat.6:19-24). Yesus tidak menginginkan pengikut-pengikutnya meng-Allah-kan uang, segala sesuatu yang dikerjakannya didasari untuk keuntungan finansial. Yang Yesus inginkan adalah supaya pengikut-pengikutnya: bekerja untuk makanan yang bertahan sampai pada kekekalan(ayat 27). Apa itu pekerjaan untuk makanan yang bertahan sampai pada kekekalan(ayat 28)?

Pekerjaan itu adalah: Percaya kepada Yesus Kristus yang telah diutus Allah(ayat29).
Orang banyak itu diajarkan untuk percaya kepada Yesus. Namun mereka menuntut tanda dari Yesus untuk dapat mereka menjadi percaya. Sesungguhnya mereka sudah melihat tanda dari Yesus, yakni mujizat lima roti dan dua ikan, namun mereka ingin menuntut yang lebih besar dan membandingkan dengan apa yang sudah diterima oleh orang lain(nenek moyang mereka telah menerima roti dari surga/Manna, baca Kel 16:1-36). Yesus menjelaskan bahwa yang memberi kehidupan adalah Allah melalui diri-Nya sendiri, namun meskipun mereka sudah melihat dan merasakannya mereka tidak percaya kepada Yesus yang adalah Tuhan(Ayat 30-36).
Begitulah manusia! Sering kali kita tidak mau percaya akan Allah. Yang sesungguhnya kita sudah melihat dan merasakan kuasaNya, yakni dari ciptaanNya yang besar, langit dan bumi serta kita sudah dapat hidup dengan menghirup udara segar untuk bernafas. Namun seringkali kita menuntut yang lebih besar, yakni mujizat-mujizat untuk kepentingan diri sendiri dengan membandingkan apa yang terjadi dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih dari kita dan kita mau itu terjadi dalam diri kita dengan menuntut kemahakuasaan Allah. Hal itu tidak kita sadari adalah wujud dari ketidak percayaan kita kepada Allah. Kita mengatur Allah, bukan Allah yang mengatur kita. kita mempunyai “Teologi kucing”(ini kiasan saja) yakni “Me logi” yang berpusat pada diri sendiri, segala sesuatunya didasari untuk kepentingan dan keuntungan diri sendiri. Perhatikan sikap kucing! Ia tidak menganggap tuannya sebagai tuan tetapi menganggap dirinya yang adalah tuan. Seekor kucing tidak pernah menyabut tuannya pulang, ia enak-enak duduk disofa tuannya. Kalau ia dekat tuannya dan mengelus kaki tuannya itu karena ia lagi butuh makanan/lapar. Itu dilakukan tidak sama tuannya saja sama orang lain juga begitu.

Seekor kucing tidak pernah duduk dibawah kaki tuannya ia duduk di pangkuan tuannya bahkan ada diatas tuannya. Kalau berjalan tidak pernah tuannya di depan, tapi dia yang ada di depan tuannya. Bagaimana dengan kita apakah kita bersikap seperti kucing kepada Tuhan Yesus kita?
Mengapa orang banyak itu (kita) harus percaya kepada Yesus Kristus? Yesus menjelaskannya bahwa Ia adalah pilihan Allah/rencana Allah agar manusia beroleh keselamat/hidup kekal atau kembali kepada nature nya/sifat dasar, yakni dapat hidup bersama-sama dengan Allah(ayat 37-40).memang untuk percaya kepada Yesus Kristus sebagai Allah tidaklah mudah. Seperti halnya orang banyak yang mencari Yesus itu. Mereka bersungut-sungut dengan apa yang dikatakan Yesus”Akulah roti yang turun dari surga”.karena mereka tahu Yesus itu adalah anak tukang kayu, anak Yusuf(ayat 41-42). Begitu juga dengan kita sering kali kita ragu untuk percaya kepada Kristus Yesus sebagai Tuhan atas diri kita, karena sulit untuk dijangkau dengan logika kita, bahkan kita mengerutu dengan apa yang kita hadapi dalam hidup ini yang seakan-akan Alah membiarkan diri kita berjalan sendirian.

Bagaimana kita dapat percaya kepada Yesus Kristus? Dalam ayat-ayat selajutnya kita diajarkan:

Jangan bersungut-sungut/menggerutu(ayat 43-46). Jangan menutup logika kita dengan asumsi pribadi. Ketika kita menemukan sesuatu dari ke-Tuhanan-an Yesus yang tidak dapat masuk akal kita, jangan kita berhenti pada pemahaman pribadi, tetapi kita terus mencari tahu dari asumsi-asumi yang lainnya. Terutama berusaha mempelajari AlkitabOrang yang mau belajar Alkitab(ayat45) adalah orang yang ditarik oleh Allah Bapa ( ayat 44) . Seseorang hanya tahu itu sebuah komputer, tapi tidak tahu fungsi-fungsi dan kecanggihan alat itu tanpa mau mempelajari dan menelusurinya. Begitu juga terhadap Allah, kita hanya tahu ada Allah tapi kita tidak akan pernah mengenal dan mengertiNya tanpa mau menelusuri dan mempelajari tentang Allah.

Menerima kematian dan kebangkitanNya. Menerima kematian dan kebangkitan-Nya digambarkan oleh Yesus sendiri dalam ayat 48-59. dengan cara memakan daging Anak Manusia(Yesus) dan minum darah-Nya. Hal itu adalah gambaran atau bahasa kiasan Yesus yang ingin menunjukan bahwa diri-nya akan mati di kayu salib sebagai korban pendamaian anatara Allah dan manusia. Sebagai korban penghapus dosa manusia. (band. Rom 10:9-10).

Dari paparan di atas kita dapat menyimpulkan apa yang diinginkan Yesus terhadap murid-muridNya, yakni:

“Mempunyai sikap percaya, bahwa Dia adalah Allah yang memberikan hidup kekal” (sikap ketiga). Yesus menginginkan murid-Nya mengakui Dia sebagai Tuhan sungguh Tuhan. Tidak menjadikan dia hamba pemuas diri kita. Cari Yesusnya jangan cari mujizatnya. Kita harus mempunyai “teologi anjing”. Lihat sikap seekor anjing. Ia selalu menyambut tuannya ketika pulang, ia sambut dengan sukacita, ia selalu duduk disamping tuannya ketika tuannya sedang duduk. Ia selalu berjalan di belakang tuannya. Bagaimanan dengan kita apakah kita sudah bersikap seprti seekor anjing kepada tuannya?

Sungguh perkataan ini keras! Seperti kata murid – murid Yesus(ayat 60) sehingga banyak murid Yesus yang pergi meninggalkannya bahkan menghianatiNya seperti Yudas(70-71). Begitu juga saat ini banyak orang tidak mau datang kepada Tuhan ketika menerima pengajaran ini atau menjadi Yudas-Yudas modern yang mencari keuntungan Pribadi dalam mengiring Yesus.

Tapi kita semua yang mendengarkannya saat ini mau introsfeksi diri dan mnenjadi seperti Simon Petrus yang berkata: “Tuhan kepada siapakah kami akan pergi?” Perkataan MU(Yesus) adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah(ayat 68-69)

Mari kita berkata: “Aku percaya dan tahu bahkan mengenal bahwa Engkau Yesus adalah Yang Kudus dari Allah, dan Engkau adalah Allah” Amin


Hidup yang mengalirkan air hidup
Pada pasal 6 kita diajarakan tentang attitude mengikut kristus, yakni sikap yang melayani, berani menghadapi masalah atau tidak takut menjalani hidup, dan percaya bahwa Yesus adalah Allah yang memberi hidup yang kekal.

Pada pasal 7 dikisahkan Yesus di perintahkan pergi ke pesta hari raya pondok daun, yaitu pesta ucapan syukur atas hasil panen. Pada perayaan itu orang tinggal dalam pondok daun sebagai peringatan akan zaman pengembaraan dalam padang belantara(Imamat 23_33-44). Yesus menolak untuk pergi ke tmpat pesta secara terang-terangan karena waktunya belum tiba, ia pergi dengan caranya sendiri, hingga ia dapat tiba mengajar di tempat pesta hari raya pondok daun itu. Ajarannya banyak membuat orang heran dan takjub akan pengetahuannya dan membuat orang banyak bertanya-tanya apakah dia itu sunggu




Kristus(penyelamat)? Pada puncak perayaan itu Yesus berkata: “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.”(ayat 37-38). Perkataan itulah yang menjadi perhatian kita. apa sebab perhatian kita itu? Pada perayaan hari raya pondok daun



Oleh Pdm. Ridwan Kurniawan S.Th

Tidak ada komentar: